Menggeser kognitif/knowledge minded ke karakter/attitude minded, dari pengetahuan ke sikap.
Tampak pada grafik bahwa kompetensi yang dituntut di era kurikulum 2013, jenjang SD memberikan porsi yang jauh lebih besar pada sikap/ranah afektif dibanding 2 ranah lainnya. Namun terkadang implementasinya masih saja kita temukan yang sebaliknya, porsi pengetahuan lebih dominan (kognitif minded). Kalau output pendidikan diprioritaskan pada karakter, maka mestinya kita harus menggeser orientasi kita dari memikirkan bagaimana caranya siswa memperoleh pengetahuan sebanyak2nya menjadi lebih fokus memikirkan bagaimana caranya karakter siswa dapat terbentuk dengan baik dan terlihat hasilnya pada saat lulus dari sekolah dasar (afektif minded).
Mengapa porsi attitude
/sikap mesti lebih dominan di SD?
Karena usia 7 sd 12 tahun merupakan usia yang paling pas untuk pembentukan karakter, jika baru akan dimulai saat anak menjelang akil baligh maka itu akan sangat terlambat, karena justru di saat akil baligh tiba anak harus sudah siap dengan tantangan di masa remaja yang membutuhkan prinsip hidup yang kuat dalam menghadapi pergaulan dengan anak sebayanya, jika kita mengabaikan ini artinya kita tidak mempersiapkan mereka untuk masa remaja mereka…
Bagaimana dengan pengetahuan? Apakah kita akan mengabaikannya dengan memberikan sedikit porsi pada ranah kognitif? Sama sekali tidak!
Sebetulnya jika anak sudah memiliki karakter yang kuat, diantaranya karakter “rasa ingin tahu”, “cinta ilmu”, dan “gemar membaca” (yang merupakan bagian dari 18 pilar karakter bangsa yang mesti diajarkan di sekolah2), akan menghasilkan siswa yang mencari sendiri pengetahuan yang dibutuhkannya, bahkan saking penasaran dan cintanya pada pengetahuan, mereka justru sulit distop ketika sedang asyik membaca atau bereksplorasi, mereka bahkan menjadi pembelajar mandiri…
Bagaimana dengan skill/ketrampilan? Untuk bekal kehidupan siswa, mereka mutlak membutuhkan ketrampilan, terutama ketrampilan hidup. Selain itu, Pengetahuan yang didapat dengan cara hands on (melibatkan kegiatan fisik) dengan sejumlah alat peraga yang sesuai, akan lebih berkualitas dan bertahan lama di benak siswa, serta lebih dirasakan manfaatnya sehingga mereka akan ketagihan untuk memperoleh pengetahuan2 yang baru dengan cara yang menyenangkan.
Untuk mewujudkannya dibutuhkan pendidikan holistik yang memadukan ketiga ranah tersebut secara seimbang disesuaikan dengan porsi yang dibutuhkan pada masing2 jenjang pendidikan
Semoga bermanfaat
Regha Rugayah






