Montessori; Spiritual Embrio

 

Montessori; Spiritual Embrio (orat oret part3)

Orat-oret Montessori for Parents Spiritual Embrio

Spiritual embrio dan periode-periode sensitif

 

Siang itu Faris sedang mengejar satu semut hitam, dari sekawanan semut dia hanya tertarik pada satu semut itu saja mengabaikan yang lainnya. Apa istimewanya semut itu bagi Faris, sebagai orang dewasa kita mungkin menganggap kejadian ini hal biasa saja, atau bahkan kita cenderung mencegah Faris berurusan dengan semut itu karena khawatir membahayakan. Mungkin karena ketidaktahuan kita, kita abai pada rasa ingin tahu bayi itu. Faris sesunggunya sedang ‘belajar’ dan dia sedang peka dengan benda-benda kecil.

Kita juga biasa menyaksikan anak yang suka memindah-mindahkan perabot, membuka tutup laci lemari atau senang mengulang-ulang tanpa jenuh perbuatan yang sama, seperti naik kursi melompat dari kursi kemudian naik lagi melompat lagi, lagi dan lagi…. Ada lagi anak yang ‘asik’ menirukan dengan sempurna kata yang kita ucapkan.

Menurut Montessori kejadian yang dialami Faris dan anak-anak lain tersebut juga dialami hampir oleh seluruh anak-anak di belahan dunia manapun. Inilah fase sensitif yang terjadi pada anak-anak tersebut di masa perkembangannya. Montessori mengistilahkannya dengan Sensitive Periods, sebuah istilah yang merujuk pada periode tertentu dalam perkembangan anak, dan kepekaan pada faktor-faktor tertentu itu bisa diobservasi.

Montessori memberikan sebuah ilustrasi dalam masalah ini, seekor ulat, pada fase perkembangan kupu-kupu, sangatlah sensitif dengan cahaya matahari, sehingga dia akan bergerak mencari arah datangnya sinar matahari, untuk mencapai makanannya yang berupa pucuk daun.

Periode sensitif terhadap cahara matahari akan hilang begitu si ulat bermetamorfosis menjadi kepompong. Anak manusia juga memiliki periode2 sensitif di tiap tahapan perkembangannya, dan periode tersebut hanya datang sekali (satu periode tertentu saja), dan tidak dapat digantikan di periode selanjutnya. That’s why… ini penting sekali untuk diperhatikan yang kemudian ditindak lanjuti di saat periode yang tepat buat anak kita…

Montessori membagi periode2 sensitif pada anak usia 0 sd 6th sbb:
– Sensitif terhadap tatanan, keteraturan (order), usia 0 -2 thn
– Belajar melalui panca indera
– Sensitif thd objek2 berukuran kecil
– Sensitif utk berjalan/bekerja (movement)
– Sensitif thd bahasa, 1,5 – 3 thn
– Sensitif thd ketertarikan sosial 2,5 – 6 thn
Apa yang bisa kita lakukan sebagai orangtua di masa2 periode sensitif tsb, dan apa akibatnya jika kita mengabaikan periode2 ini?
Pada masa anak sensitif terhadap keteraturan, dia menyukai rutinitas dan kegiatan yang terprediksi, misal setiap habis bangun tidur di sore hari, adalah kegiatan madi sore, lalu makan, dia tahu betul urutan nya dengan persis, jadi ketika dia memprediksi bahwa setelah bangun dia akan mandi, tapi yang terjadi adalah langsung diberi makan, maka dia akan protes dan uring2an, bahkan bisa sampai tantrum. Akhirnya orangtua mungkin akan menyimpulkan bahwa anaknya marah tanpa sebab/ sedang rewel/badmood dsb. Rutinitas tidak terbatas pada kegiatan diri anak tetapi juga pada kebiasaan orang dewasa di sekitarnya yang teratur, seperti selalu meletakkan sepatu di rak sepatu setibanya di rumah setiap pulang kerja, lalu suatu saat diletakkan di tempat lain, si bayi akan protes juga. Kita bisa memanfaatkan tahap ini untuk mengajarkan anak meletakkan barang-barang miliknya di tempatnya serta menanamkan rutinitas sejak bangun pagi sampai menjelang tidur sehingga saat usia sekolah anak akan lebih mudah untuk diajarkan disiplin.

Dapat disimpulkan bahwa periode sensitif ini membutuhkan sarana utuk penerapannya pada anak, sarana yang dibutuhkan berupa lingkungan yang dipersiapkan (Prepared Environment)
Akan kita bahas pada orat-oret selanjunya…
Bersambung….

 

Tags
Layak share? Sebarkan
Leave the first comment

Pos Terkait