ORANGTUA ‘SHOCK’ MELIHAT HASIL TRY OUT ANAKNYA
By Munif Chatib
Seorang sahabat ‘shock’ melihat hasil try out anaknya yang kelas 6 SD, nilainya 3 dan sudah diremidi 7 kali. Sebutnya saja nama si anak adalah Amin. Ketika saya berdiskusi dengan guru si Amin ternyata memang Amin tidak mampu untuk mengerjakan soal kognitif matematika. Amin memang punya hambatan untuk berpikir mengerjakan soal matematika. Ketika saya tanya tentang bagaimana strategi mengajar guru. Semua guru Amin mengatakan kami sudah jungkir balik mengajar Amin dengan ganti-ganti strategi. Mulai strategi umum sampai khusus. Ketika try our Ujian Nasional diselenggarakan nilai Amin terpuruk. Ketika hasil itu disodorkan orangtuanya, terutama sang mama, langsung ‘shock’ hampir pingsan sebab akan membayangkan anaknya tidak akan lulus ujian nasional.
Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi hal di atas? Kebingungan, ketegangan dan pikiran untuk ambil jalan pintas tidak hanya ada di kepala orangtua, juga terjadi pada para guru, para kepala sekolah di seluruh Indonesia ketika memasuki bulan-bulan Apri, Mei dan Juni, bulan-bulan krusial Ujian Nasional.
Saya bertanya kepada gurunya, apakah si Amin mempunyai kelebihan yang menonjol. Serempak mereka menjawab, ada! Yaitu musik dan menggambar. Kalau dua hal itu si Amin jagonya. Namun tidak semua orang melihat dua kemampuan Amin itu menjadi sesuatu yang patut dikembangkan dan dinilai dari si Amin. Memang sih, musik dan menggambar memang tidak ada Ujian Nasional-nya dan akhirnya tidak ada try outnya. Coba jika ada try outnya, pasti si Amin akan menduduki ranking 1 dengan nilai sempurna 10.
Dalam tulisan ini, saya menghimbau terutama kepada orangtua dan guru.
- Percayalah kemampuan anak kita tidak hanya ditentukan dari nilai ujian nasional dan try out. Masih banyak sisi-sisi lain yang dapat dikembangkan dari kompetensi anak kita.
- Fungsi dan konten dari ujian nasionalpun masih banyak diperdebatkan. Pada wilayah akademis, ujian nasional model multiple choice dan hanya beberapa bidang studi yang diujikan sudah disepakati berfungsi untuk pemetaan kualitas versi diknas, bukan alat utuk menentukan standart kelulusan. Sebab yang menentukan standar kelulusan itu menurut UU Sistem Pendidikan Nasional adalah guru atau sekolah masing-masing. Keberadaan fungsi ujian nasional sebagai standart kelulusan lebih cenderung ke arah wilayah politis, bukan akademis.
- Dalam UU sisdiknas (UU No. 20 th. 2003) pada pasal 57 dan 58 dinyatakan bahwa hak evaluator ada di tangan ‘pendidik’ atau guru. Berikut saya cuplikan pasalnya.
Pasal 57
- Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
- Evaluasi dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.
Pasal 58
- Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.
- Evaluasi peserta didik, satuan pendidikan, dan program pendidikan dilakukan oleh lembaga mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistemik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan.
- Orangtua harus sadar bahwa ujian nasional yang nanti akan dilewati oleh anak-anak kita harus diartikan sebagai satu tahapan yang harus dilalui dalam proses belajar, bukan untuk melabelisasi anak bodoh jika tidak lulus dan pandai jika anak lulus.
- Tidak ada hubungannya antara hasil lulusan siswa dari ujian nasional dengan kualitas sebuah sekolah atau kualitas gurunya. Sebab kualitas guru dalam emngajar tidak bisa diukur dengan soal yang dibuat oleh pihak lain, bukan guru tersebut.
- Jadi mari kita bantu anak kita untuk selalu ‘fresh’ otaknya menjelang Ujian Nasional, jangan malah dibuat tegang dengan tidak boleh istirahat, harus latihan soal-soal dari pagi sampai malam.
- Ayolah menjadi ORANGTUANYA MANUSIA. Menjadikan anak kita mampu menyelesaikan masalah kehidupannya nanti. Sebab ketika kita hidup di masyarakat yang ada adalah masalah, bukan soal multiple choice. Menjadikan anak kita akan menjadi sumberdaya manusia yang kuat pada zamannya nanti sebab mempunyai kemampuan khas yang dimilikinya.
- Jika anak kita lulus ujian nasional, kita ucapkan Alhamdulillah, maju terus nak! Jika gagal ujian nasional, kita ucapkan sabar, maju terus nak!, kemampuanmu tidak hanya diukur dari ujian nasional.






